Jalan-Jalan ke Taman Baluran

Di hari yang gak begitu cerah di akhir minggu liburan UTS semester genap ini, gue dan temen-temen kampus punya rencana untuk jalan-jalan ke Taman Baluran. Sebelumnya gue dan temen-temen yang lain punya rencana untuk kemah di Kawah Ijen, tapi terancam banyak yang gak bakal ikut karena berbagai alasan yang gak masuk akal pribadi. Tepat pukul setengah 9 WITA (Waktu Indonesia Terserah Anda) tadi pagi, gue bersama rombongan yaitu gue, Mas Rio, Dwi, Okky, Bagus, Lina, Dhatis, Arzie, Arief, Puji, Mas Sanda, dan Tian langsung capcus ke Taman Baluran yang terletak di Kabupaten Situbondo. Perjalanan sempat terhambat dengan adanya perbaikan jalan di sekitar daerah Wongsorejo, namun tidak berlangsung lama. Canda tawa dan salip menyalip mengiringi perjalanan kami ke hutan suaka yang melindungi hewan banteng ini.

Cukup lega juga ketika sampe di pintu gerbang Taman Baluran. Setelah membeli tiket masuk, tanpa basa-basi kami langsung masuk ke tengah hutan. Ternyata jalan menuju ke Taman Baluran sangat mengecewakan, terbukti dengan hancurnya jalan sepanjang hutan Baluran. Dan sempat bikin gue jengkel. Tapi itulah tantangan, kalo gak mau berkorban yaw gak dapet pengalaman baru. Kalo liat jalan hancur kayak gitu, gue jadi inget sama keadaan jalan di kampung gue yang di Tabanan. Bahkan yang ini malah tambah parah.

Akhirnya nyampe juga di kawasan Taman Balurannya, hawanya sejuk banget dan segar pastinya. Gue dan temen-temen langsung naik ke sebuah tower, dan gak lupa narsis-narsis sedikit pake kameranya Puji :D. Setelah diatas tower, barulah keliatan pemandangan hutan dan savana yang bikin gue berdecak kagum. Gak rugi dah gue main-main kesini. Foto sana-sini, dan akhirnya boen juga. Kami pun turun dari tower untuk menyusul teman-teman yang lain dibawah.

Tempat selanjutnya, teman-teman sepakat untuk menuju ke pantai yang terletak 3 km dari tempat pertama. Gue agak keberatan sie, karena bensin motor gue udah mulai habis gara-gara jalan hancur pas ke Taman Baluran tadi. Akhirnya Mas Rio dengan baik hati menawarkan boncengan. Dan kembali jalan menuju pantai hancur abiiezzz. Gak apalah, juga gue boncengan dan sedikit mengirit bensin :D.

Sampailah gue di pantai yang bukannya rame dengan orang, malah rame dengan monyet :p. Muncul lagi masalah, yaitu bocornya ban sepeda motor milik Dhatis dan Arief. Sempat kelimpungan juga dengan keadaan tersebut. Tapi, suasana pantai lebih menarik perhatian kami daripada masalah ban bocor. Jadilah kami duduk di pinggir pantai sambil menyantap nasi alakadarnya, dengan ditemani monyet-monyet yang terus meminta belas kasihan kami untuk berbagi sedikit makanan :D. Karena gak dikasi, salah satu monyet mencuri satu buah mangga dari tas Dhatis. Ck..ck..ck..berbakat banget tuh monyet jadi pencuri, udah lihai, lincah, pinter loncat-loncat pohon lagi.

Setelah puas, kami akhirnya kembali ke tempat pertama yang kami singgahi. Karena rasa kesengsaraan kesetiakawanan kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil menuntun sepeda motor (bagi yang bawa motor, kalo gue kan kagak :D). Jalan udah hancur, becek gak ada ojek, ditambah jauh pula. Tapi dari sini, gue dapet suatu pengalaman yang berharga. Ternyata kebersamaan tuh indah banget waloupun cuma dengan sedikit orang. Yang penting rasa toleransinya, bukan karena banyak orangnya.

Sampai juga di tempat singgah yang pertama, dan untungnya ada tukang tambal ban di tempat tersebut. Dan muncul masalah lagi, motor gue bensinnya udah mau habis kalo dipaksapun itu cuma sampai di tengah hutan. Untungnya, Lina berbaik hati untuk membagikan bensinnya kepada gue. Hujan langsung turun dengan derasnya, mungkin karena tersentuh dengan kisah kami yang saling berbagai (lebay mode : on). Wow, air sungai meluap gara-gara hujan yang lumayan deras tadi. Setelah semuanya fix, kami berangkat untuk pulang dengan tekad kuat menerjang hujan dan banjir sepanjang jalan di hutan Baluran. Air yang keruh menyulap motor-motor kami seperti traktor pembajak sawah. Bukan main kotornya dah.

Dan keluarlah kami dari hutan Baluran tersebut yang cukup menyesatkan tersebut. Gue pulang dengan keadaan yang basah kuyup dan kotor bkan main :D. Namun, itu sebanding dengan pengalaman dan pelajaran yang gue dapet. Pengalaman berpetualang di tengah hutan yang jalannya hancur hingga menuntun motor yang mogok. Pelajaran tentang perlunya rasa saling toleransi, tolong menolong dengan sesama. Gak akan terlupakan dah pokoknya. Semoga ke depannya bisa lebih kompak lagi untuk menjajal temapt-tempat wisata di tanah Jawa yang lainnya.

9 comments

  1. TuSuda Reply

    Jadi bagaimana rekreasinya, mudah-mudahan tidak mengalamai kelelahan dan tetap semangat berkunjung ke tempat wisata lainnya…ya BLi…

  2. oQ Reply

    ternyata tersimpan makna seperti itu kmren,, :mlorok:
    ko’ q g sdar ya?? pasti gra2 g ikut nuntun.. hehehehe…:ngelamun:

    ayo Lanjutkan… next destination is ….. …. OUTBOND

  3. Tamba Budiarsana Reply

    :sip:
    Dari fotonya saja udah kelihatan sejuk, apalagi sore ya….?? Bagus buat kemah…
    Salam Kenal Juga Bli…
    .-= Tamba Budiarsana´s last blog ..Mencari Uang di Internet =-.

    ——————————————————————————————-
    Gede Lumbung : Kata orang-orang sekitar sana, katanya gak baik untuk kemah….
    Banyak hewan liar disana…
    Terima kasih udah berkunjung balik bli…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *