Curhat : Tragedi Memalukan Di Dagang Nasi Langganan

Efek begadang belakangan ini, ternyata membawa pengaruh yang sangat buruk untuk saya. Dimulai dari tadi pagi, yang tumben bisa bangun pagi walau masuk kuliah agak telat dikit karena masih asik untuk melanjutkan pekerjaan tadi malam. Walau agak berat meninggalkan pekerjaan di kala mood saya sedang bagus-bagusnya, saya putuskan untuk berangkat kuliah juga. Sampai di kampus, ternyata pak dosen sudah terlihat “ngoceh” di depan. Cari posisi duduk yang aman (baca : kursi paling belakang), dan tak lupa mengeluarkan si Gio untuk membaca sedikit berita hari ini. Karena mungkin masih dilanda ngantuk atau memang saya tidak mengerti dengan materi yang disampaikan, saya pun ke’terusan berselancar di dunia maya. Sampai akhirnya saya fokus kembali ke arah pak dosen, gara-garanya pak dosen memberikan sebuah tugas yang harus dikumpulkan jam 3 siang + tugas untuk minggu depan karena pak dosen gak bisa mengisi mata kuliah. Hmmm,,,aslinya saya lagi malas untuk mengerjakan tugas tersebut, karena memang di rumah pekerjaan masih banyak yang menanti, yang dimana deadline-nya akhir bulan ini. Setelah kelas bubar, saya langsung capcus pulang.

Cuaca yang panas masih menjadi dilema sampai tulisan ini dibuat. Saya paksakan juga untuk tugas itu, walau sulit untuk fokus mengerjakannya, ditambah mata yang mulai ngantuk, imbas efek begadang kemarin malam. Tepat 1 jam sebelum batas akhir pengumpulan, akhirnya tugas itu selesai saya kerjakan. Langsung saya lanjut dengan mengerjakan sisa-sisa pekerjaan tadi malam sampai jam 9 malam. Perut pun mulai demo, minta diisi ulang. Bagi saya, urusan perut adalah urusan nomor satu dan tidak bisa diganggu gugat :D. Seperti kata pak Ketua Bem, “Logika Gak Jalan, Kalo Gak Ada Logistik”. Dagang nasi langganan pun menjadi tujuan saya untuk mengisi perut. Ditemani dengan motor Jupiter Z yang sampai saat ini belum pernah bonceng cewek lagi, setelah tragedi putus cinta beberapa bulan yang lalu (#eaaa…eaaa SyndromGalau).

Sampai di warung nasi langganan, saya pun langsung memesan menu yang seperti biasanya. Dan dari sinilah mulai awal “bencananya”. Si dagang bertanya, “Mas, punya uang kecil 20 ribuan 2 + 10 ribuan 1..???”. Sambil ngambil dompet, dan ternyata ada. Sangat untung untuk si dagang, dan buntung untuk saya. Tanpa pikir panjang, saya serahkan uang 20 ribuan 2 + 10 ribuan 1, ecchhh…si dagang malah minta uang 2 lembar uang 20 ribuannya saja. Sambil menyerahkan uang 50 ribu, si dagang berkata “Saya ambil 40 ribu aja dulu, artinya saya hutang 10 ribu sama sampean…“. Ada yang aneh kah dari perkataan si dagang itu…??? Sebenarnya aneh, tapi berhubung otak saya lagi malas berpikir, saya cerna saja perkataan dari si dagang.

Tak lama, pesanan saya pun datang dan saya menyantapnya dengan lahap. Pas lagi asik-asik makan, malah ada 2 cewek cantik yang kebetulan juga berbelanja di warung itu. Mulus + bening, itulah kesan pertamanya. Dari pakaiannya, saya perkirakan mereka adalah mahasiswi dari kampus tetangga. Setelah selesai makan, saya mulai mengulik-ngulik si Gio, sambil pamer dikit lah ke hadapan 2 cewek cantik tersebut :D, istilah kerennya Tebar Pesona. Setelah dikira cukup aksi Tebar Pesona-nya, saya pun menghampiri si dagang dan menanyakan total yang harus saya bayar. Aslinya sih sudah tau akan habis 10 ribu, tapi biar kelihatan basa-basi dikitlah, sembari melanjutkan aksi Tebar Pesona. Nah…kembali lagi ke perkataan si dagang yang tadi, “Saya ambil 40 ribu aja dulu, artinya saya hutang 10 ribu sama sampean…“. Logikanya kan si dagang punya hutang 10 ribu kepada saya, sedangkan saya harus membayar 10 ribu kepada si dagang. Artinya bisa impas dong. Tapi si dagang malah ngotot kalau saya harus bayar 20 ribu.

What is the maksud….????

Saya otomatis gak terima kalau harus bayar 20 ribu, karena si dagang sebelumnya bilang kalau dia yang punya hutang ke saya sebesar 10 ribu. Setelah ada aksi mulut antara saya dengan si dagang, saya pikir-pikir kembali, dan ternyata saya lah yang berhutang ke si dagang sebesar 10 ribu. Ditambah bayar nasi sebesar 10 ribu, pantaslah si dagang minta 20 ribu. Saya yang juga ikutan ngotot, akhirnya jadi malu. Apalagi semakin banyak yang berdatangan untuk membeli nasi disana. Yang paling bikin malu adalah, aksi Tebar Pesona yang sudah saya lancarkan tadinya menjadi luntur. Terlihat dari tampang kedua cewek tersebut yang awalnya melemparkan senyum manis kepada saya yang buruk rupa ini, mendadak menjadi sinis dan seolah-olah mengolok-olok saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung menyerahkan uang 20 ribu kepada si dagang serta bergegas minggat dari warung tersebut dengan wajah yang merah :(.

Pas di perjalanan pulang, saya berencana tidak akan ke warung langganan itu lagi, Malu + Takut. Siapa tau si dagang masih ingat dengan wajah saya ini. Kalau dipikir-pikir, siapa yang salah yaw…??? Si dagang yang berkata “Saya ambil 40 ribu aja dulu, artinya saya hutang 10 ribu sama sampean…” atau Saya yang malas berpikir dan mencerna mentah-mentah kata-kata dari si dagang tersebut….???

3 comments

  1. rhevand Reply

    ::haha, luccu, yg salah siie sbener_a si dagang 🙂
    btw kuliah dmna bro?

  2. Joe Reply

    Bisa bikin mata saya betah melek baca posting yang nei..
    (#mikir, mungkin pernah ngalamin sendiri kalee…)

    saya suka content blog’snya Bli, slain tutor dan kawan-kawan…ada juga jokes yg bkin betah stand by d dpan pc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *