Curhat : Fenomena Konversi Nilai dan Dilema Penjurusan Mata Kuliah

Judulnya memang agak lebay, tapi memang itu yang sedang terjadi di kampus saya. Dari hari senin kemarin memang sedang diadakan konversi nilai di kampus, karena di semester depan akan ada perubahan kurikulum. Otomatis mata kuliah juga berubah, perubahannya pun sangat signifikan dan mata kuliahnya bisa dibilang cukup, hmmm,,, “seram”. Saya katakan “seram”, karena saya memang sudah melihat mata kuliah yang baru, jauh sebelum proses konversi nilai ini. Yang bikin tambah “seram” lagi, ialah SKS per mata kuliah jadi tambah banyak. Yang dulunya rata-rata 2 sks, sekarang makin ‘gendut’ dengan rata-rata 3-4 sks. Siap-siaplah tambah ‘mabok’ di semester depan.

Dengan adanya konversi ini, otomatis sangat mengurangi waktu saya untuk berlibur + melepas rindu bersama pacar di kampung halaman. Yaw jelas aja dong, wong konversi-nya hanya diberikan waktu selama 5 hari. Coba aja konversi-nya 2 minggu, kan saya gak perlu cepat-cepat balik kesini kemarin sore.  Yaw mau gimana lagi, demi sebuah cita-cita luhur yang ingin lulus 3,5 tahun, memang ada sesuatu yang harus dikorbankan, seperti pepatahnya orang jawa “ndang mari, ndang wis“.

Dan tadi pagi, dengan mata yang masih ngantuk karena begadang untuk mencari sesuap nasi, saya pun capcus ke kampus untuk melakukan konversi nilai. Kirain gedung kampus yang baru sudah jadi setelah saya tinggal pulang kampung selama 4 hari (emangnya candi prambanan, semalam bisa langsung jadi), ternyata masih tetap seperti yang kemarin. Buruhnya tetap yang itu, mandornya tetap yang itu juga, paling yang berubah hanya bahan-bahan material untuk membangun gedung. Saya langsung masuk kantor untuk mencari dosen wali, dan tidak perlu berapa lama akhirnya saya bertemu juga dengan pak dosen wali yang senyumannya sangat-sangat menggoda. Sembari menyerahkan selembar kertas yang berisi mata kuliah semester depan, beliau pun bertanya, “Mau ambil jurusan apa?”. Saya pun baru ingat, kalau semester depan di kampus sudah ada yang namanya penjurusan minat dan keahlian. Dimana penjurusannya dibagi menjadi 3 bidang keahlian, yaitu RPL, AI dan Citra serta Jaringan. Terus terang, saya juga bingung mau memilih yang mana, semuanya sama-sama susah. Dan anehnya, kenapa bisa gak ada jurusan Banyuwangi-Denpasar, pasti saya akan dengan senang hati+tanpa tekanan memilih jurusan yang itu (#lho).

Setelah pertimbangan yang cukup matang + tanya sana-sini ke teman satu angkatan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke jurusan RPL. “Kenapa gak pilih Jaringan atau AI-Citra..???”. Yaw karena otak saya ini pas-pas’an. Kalau masuk jaringan, saya udah gemetar duluan kalau liat tang crimping. Apalagi masuk AI-Citra, yang mayoritas memang mempelajari tentang kecerdasan buatan (ngapain juga kecerdasan dibuat-buat) dan pastinya membutuhkan kemampuan algoritma yang kuat. Mungkin hanya RPL yang mengerti akan kebutuhan otak dan memenuhi spesifikasi otak saya yang lemot ini.

Setelah selesai, saya santai sejenak di bilik kampus yang kini sudah disekat triplek. Entah karena perasaan saya atau memang suasananya yang mendukung, bilik kampus lebih mirip ruangan di dalam gerbong kereta api dengan kursi yang berjejer di kanan kirinya. Laptop kesayangan yang sudah menemani saya hampir selama 2 tahun ini pun saya keluarkan, kemudian buka aplikasi IDM untuk melanjutkan download film Final Destination 5. Dilanjutkan buka Facebook (yang ini wajib), dan bertebaran lah status-status dari teman-teman saya, entah itu yang satu angkatan atau beda angkatan. Intinya membahas (lebih banyak mengeluhnya) tentang penjurusan yang akan diadakan semester depan. Ada yang sama dengan saya, yaitu bingung memilih jurusan yang tepat. Ada juga yang seolah-olah menyalahkan kampus dengan kebijakan baru ini, intinya si teman saya ini menyayangkan (lebih tepatnya tidak puas) kebijakan kampus, yang baru memberlakukan penjurusan di semester-semester akhir dia berkuliah di kampus tercinta. Saya sih cuma ketawa-ketawa saja membacanya, lantaran saya tidak mau diambil pusing dengan masalah yang beginian. Tetapi yang membuat saya agak miris, ialah si teman saya ini mengatakan di statusnya (lebih tepatnya menuliskan di statusnya) kalau dia rugi berkuliah di kampus ini. Entah status yang dia buat itu curhat’an dari hati yang terdalam atau hanya esmosi sesaat (lebih tepatnya saya sebut saja ababil). Saya cuma bisa geleng-geleng membacanya, karena gak habis pikir kok bisa ada yaw pemikiran seorang yang menyandang status mahasiswa seperti anak ABG yang baru lulus SMP alias ababil seperti itu.

Sebenarnya tidak ada satupun hal yang merugikan kita di dunia ini, semua itu hanya asumsi kita semata yang sedang esmosi dan labil. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada pengalaman dan hikmahnya. Contohnya saya, bisa saja saya bilang kalau saya rugi kuliah ke Banyuwangi, sedangkan di kota asal saya tepatnya di Denpasar, perkembangan teknologi dan pendidikannya lebih maju, “Lantas, ngapain juga jauh-jauh ke Banyuwangi untuk menuntut ilmu, kayak orang yang udah kehabisan tempat kuliah aja???”. Mungkin itu baru salah satu cemooh dari kawan, guru bahkan saudara saya di Denpasar, ada juga yang lebih parah dan sangat-sangat menusuk, “Achh, nanggung kuliah ke jawa, cuma selat pasih (nyebrang laut) aja”. Dan syukurnya saya bukan orang yang bermental ‘tempe’, walau dicemooh seperti apapun saya tetap memantapkan diri untuk berkuliah disini, walau terkadang ada rasa ingin berhenti kuliah disini gara-gara kurangnya apresiasi pihak kampus kepada mahasiswa sontoloyo seperti saya ini. Tapi dari semua itu, saya banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru yang mungkin tidak akan saya dapatkan di kota asal saya. Seperti teman-teman baru, mempelajari budaya daerah lain, pengetahuan TI dari ahlinya (Pak Eko dan Pak Hadiq), kerjasama tim, pengalaman pacaran dengan gadis yang berbeda agama, dan yang lainnya. Semua itu akan menjadi warna dalam kehidupan saya dan sebuah cerita untuk anak cucu saya nantinya.

So, gak ada satu hal pun yang membuat kita rugi di dunia ini. Anggap semua itu sebagai pembelajaran semata yang mungkin akan menjadi kenangan kita di hari tua nanti. Ayo jadikan Kuliah sebagai media aktualisasi diri dan pendewasaan karakter !

Salam Hangat,

3 comments

  1. andhyodank Reply

    Dan diBanyuwangi pula untuk pertama kalinya ada cewek nglempar wajahmu pake duit.
    Wakakakakakakakak.
    *Gak di-approve nih komen kayaknya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *